Senin, 04 April 2016

Masalah Yang Sulit Dilupakan

Masalah Yang Sulit Dilupakan


Suatu hari, setelah liburan kenaikan kelas, Billa dan teman-teman barunya masuk kelas sesuai yang ditentukan guru masing-masing. Setelah itu mereka mulai membentuk Stuktur kelas yang ketuanya adalah Ani, wakil ketua adalah Rina, Bendahara 1 Lia, Bendahara 2 Luqman, Sekretaris 1 adalah Billa, dan Sekretaris 2 adalah Ilham. Awalnya, Billa sangat menyukai kelasnya karena teman-temannya selalu bekerja sama menyelesaikan masalah.
Suatu hari, ketua osis datang ke kelas Billa dan memberi tahu siapa yang berminat menjadi pengurus osis. Sejak kelas 7, Billa ingin sekali menjadi pengurus osis karena visi misi adalah memajukan sekolahnya dan mengembangkan ekstrakulikuler yang tidak jalan. Akhirnya Billa, Lia dan Afiq mengikuti tes osis. Setelah beberapa pertemuan setiap hari Senin, Kamis, dan Sab’tu, Billa merasa tidak siap menjadi osis tetapi dia terus berusaha agar ia bisa menjalankan visi misinya. “Aku harus berusaha agar aku bisa menjadi pengurus osis yang bisa menjadikan sekolahku maju” kata Billa dalam hati sambil mengurangi rasa takut.
Saat tes tulis dilaksaakan, Billa merasa ia bisa mengerjakan soal itu karena semalam ia sudah belajar. Setelah tes tulis dilaksanakan, keesokan harinya kakak osis memberi tugas. “Tulislah Nama, Kelas beserta No Absen, dan tulis jabatan apa yang kalian mau dan apa visi misi kalian menjadi osis, setelah kalian menulisnya, kalian baca di depan dan menjawab semua pertanyaan yang kami dan teman-temanmu tanyakan” kata kakak osis. Billa yang mudah takut saat maju ke depan, ia berusaha tampil dengan baik.
Saat temannya membacakan visi misi mereka, teman sebangku Billa bertanya, tidak sengaja kakak osis mendengar ada yang berbicara di bangku belakang, dan kakak osis menyuruh Billa dan teman sebangku Billa  maju ke depan untuk membacakan visi misinya menjadi osis. Saat Billa sudah membacakan visi misinya, perasaannya menjadi tenang karena visi misinya bagus. “Alhamdulillah, visi misiku dapat diterima” kata Billa dalam hati. Akan tetapi teman sebangku Billa di marahi kakak osis karena tidak menghargai temannya saat membaca. “Ya sudah siapa yang memulai pembicaraan ?” kata kakak osis. Billa yang tidak bisa membiarkan temannya dapat masalah akhirnya Billa membela temannya. “Saya yang memulainya kak” kata Billa dengan tegas sambil menahan tangisannya. “Itu adalah contoh, jadi kalian jangan mengulainya lagi” kata kakak osis. Billa yang bisa menahan tangisannya dan mulai menangis di rumah.
Keesokannya, tes lisan dilaksanakan. Billa yang merasa takut di Eliminasi berusaha menerima kejadian kemarin sudah mereka lupakan. Saat Billa di tunjuk ke kelas sebelah untuk tes lisan, Billa kesulitan menjawab. “Jika kamu ada lomba dan rapat osis pada hari dan jam yang sama, apa yang akan kamu lakukan ?” kata kakak osis. Billa hanya bisa menjawab seadanya saja, “tentu saja saya memilih rapat osis, karena rapat itu juga karena kepentingan sekolah” kata Billa. “Jika kamu tidak ikut lomba, teman-temanmu akan kesulitan, dan jika rapat osis tidak ada kamu osis juga kesulitan, jadi apa yang kamu lakukan ?” kata kakak osis. Billa hanya terdiam tanpa berbicara sedikit pun.
Seminggu setelah tes lisan, tes LBB (Latihan Baris-Berbaris) pun dilaksanakan. Billa tidak bisa bersuara keras dan akhirnya sakit karena terlalu banyak bersuara keras. “Kenapa aku sulit sekali berbicara dengan suara keras ?” kata Billa dalam hati sambil menangis menahan rasa sakit di perutnya. Setelah latihan selesai, tes dilakukan di lapangan Volly dan di Lapangan Basket. “Lebih baik di Lapangan Volly daripada di Lapangan Basket” kata Billa sambil kepanasan.
Keesokannya Billa tidak masuk sekolah karena kelelahan. Kemudian besoknya Billa masuk sekolah dan Lia memberi kabar “Billa kemarin waktu pelajaran Biologi di Lap Fisika, Afiq bilang kalo dia suka kamu” kata Lia sambil senyum. “Ahh itu tidak mungkin, masa baru kenal 3 bulan saja udah suka, mungkin dia bercanda” kata Billa sambil berpikir tentang hal itu. “Afiq yang di bilang Lia itu bercandakan ?” kata Billa lewat Facebook. “Iya bercanda kok, Bil...” kata Putri. “Ohh yaudahlah” kata Billa sambil tertawa.
Lama-kelamaan Billa yang memikirkan hal itu tiba-tiba saja Billa merasa suka dengan Afiq. Semenjak berita Afiq suka Billa, Afiq tidak pernah lagi berbicara dan bercanda layaknya teman seperti dulu. Billa berulang kali SMS Afiq sambil bercanda, tetap saja Afiq tidak membalasnya. Malam harinya Afiq membalas SMSnya dengan kata-kata yang tidak enak di baca. “Baik, aku tidak marah sama kamu, tapi kamu jangan ganggu aku lagi !” kata Afiq. “Memangnya aku ganggu apa ?” Billa bertanya sambil keheranan.
Keesokannya Bila masuk sekolah dengan tidak bersemangat semenjak Afiq memberi tahu seperti itu. Sepulang sekolah Billa, Lia, Afiq dan teman-teman yang lain berkumpul di kelas 9 karena hari ini adalah pemilihan siapa yang akan di eliminasi. Billa sudah tahu dia akan di eliminasi karena masalah saat pembacaan visi misi. “Siapa yang disini merasa dia tidak diterima ?” kata kakak osis. Billa yang merasa tidak diterima angkat tangan.
Nama yang dipanggil ke depan adalah Billa,Lia dan Nanda. Billa yang sudah menduga dia tidak diterima hanya biasa pasrah. Dan ternyata benar yang di eliminasi adalah Billa, Lia dan Nanda. Kakak osis langsung memeluk Billa, Lia dan Nanda, Billa merasa mereka bahagia kalau Billa di Eliminasi karena terlihat dari wajahnya. “Jangan sedih dek..., kalian masih bisa ikut Gelombang 2, masih ada kesempatan kok, lagian yang mengeliminasi kalian bukan kita tapi guru” kata kakak osis. Teman-teman Billa memberi semangat agar tidak putus asa. Billa mencoba ikut Gelombang 2 bersama teman-teman yang baru daftar gelombang 2, saat tes tulis soal yang di berikan pun sama pada saat gelombang 1. Saat mengerjakan tiba-tiba Billa berpikir “apakah aku saat diterima menjadi pengurus osis bisa melaksanakan tugasku ?” katanya dalam hati.
 Keesokannya adalah adalah tes lisan. Billa dan Lia sudah memutuskan kalau mereka keluar dari osis dan Billa menampaikannya pada Winda dan Putri. “Ehh aku dan Lia keluar dari osis” kata Billa. “Lho kenapa ?” kata Winda “Ini kesempatan bagus lho yang nge eliminasi kita bukan mereka tapi guru” kata Putri. “Lebih baik aku sama Lia keluar, kita takut tidak bisa melaksanakan tugas kita, daripada kita diterima tidak bisa melaksanakan tugas, itu kan berarti kita cuma numpang jabatan aja, supaya di sebut pengurus osis, kita cuma tidak mau dapat masalah lagi” kata Billa dan Lia. “Ya sudah kita tidak maksa kalian ikut lagi” kata Winda dan Putri.
Setelah kejadian itu berlalu, perasaan Billa ke afiq tetap masih ada, padahal Billa sudah mencoba melupakannya. “Kenapa perasaanku pada Afiq masih saja ada padahal Afiq sudah bersama Silvi” Billa yang memikirkannya sambil menangis karena sulit merelakannya. “Ya Allah bantulah aku dalam merelakan perasaanku Afiq untuk Silvi” Kata Billa dalam hati. Afiq yang selalu bertemu dengan Silvi di depan kelasnya membuat perasaannya semakin sakit, Billa hanya Bisa mengungkapkannya dengan cara menangis karena rasa sakit perasaan yang sulit disembuhkan. Saat pelajaran, Billa yang update status lewat BBM selalu galau, galau, dan galau. Tiba-tiba saja ada yang membalas BBMnya tentang statusnya. “Galau kenapa ?” kata orang itu, “Tidak kenapa-kenapa” Billa membalas. “Semua masalah pasti ada penyebabnya” kata orang itu. Billa yang semakin kesal membalas “Kenapa sih kamu kepo banget” kata Billa dengan membalas emoticon marah. “Kan aku Cuma tanya aja” kata orang itu. Billa yang semakin kesal tidak pernah membalas BBM orang kalau tanya-tanya tentang perasaannya.
Sesampainya di rumah Billa bergegas masuk kamar dengan menangis. “Kenapa dek, kok pulang-pulang nangis” kata kakak Billa. Billa yang kelelahan memikirkan hal itu langsung tertidur. Kakak Billa diam-diam bertanya pada teman-temananya kenapa Billa pulang sambil menangis. Saat Billa bangun tidur kakak Billa mengajak Billa jalan-jalan ke kota agar pikirannya bisa melupakan masalah Afiq. “Udahlah dek, masalah itu, gak usah dipikirin lagi, diakan udah ada yang punya, masih banyak kok laki-laki yang suka kamu” kata kakak Billa. “Tapi kak, dia tu sulit banget kulupain“ kata Billa dengan nada tinggi. “Udahlah kamu nurut aja kata kakak” kata kakak Billa dengan sabar.
Sepulang dari kota, Billa masih saja sulit melupakannya, sehari-hari Billa melupakannya dengan tidur atau dengan bermain dengan kakaknya. Dan ternyata hal itu bisa dilupakan oleh Billa, kakaknya yang melihat Billa ceria sudah merasa senang karena adiknya kembali ceria. 
O    Amanat   :
Lupakanlah Semua Masalah, Tetapi Jika Masalah Itu Kita Sendiri Yang Membuat, Kita Harus Bertanggung Jawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar