Masalah Yang Sulit Dilupakan
Suatu hari, setelah liburan kenaikan kelas, Billa dan teman-teman barunya
masuk kelas sesuai yang ditentukan guru masing-masing. Setelah itu mereka mulai
membentuk Stuktur kelas yang ketuanya adalah Ani, wakil ketua adalah Rina,
Bendahara 1 Lia, Bendahara 2 Luqman, Sekretaris 1 adalah Billa, dan Sekretaris
2 adalah Ilham. Awalnya, Billa sangat menyukai kelasnya karena teman-temannya
selalu bekerja sama menyelesaikan masalah.
Suatu hari, ketua osis datang ke kelas Billa dan memberi tahu siapa yang
berminat menjadi pengurus osis. Sejak kelas 7, Billa ingin sekali menjadi
pengurus osis karena visi misi adalah memajukan sekolahnya dan mengembangkan
ekstrakulikuler yang tidak jalan. Akhirnya Billa, Lia dan Afiq mengikuti tes
osis. Setelah beberapa pertemuan setiap hari Senin, Kamis, dan Sab’tu, Billa
merasa tidak siap menjadi osis tetapi dia terus berusaha agar ia bisa
menjalankan visi misinya. “Aku harus berusaha agar aku bisa menjadi pengurus
osis yang bisa menjadikan sekolahku maju” kata Billa dalam hati sambil
mengurangi rasa takut.
Saat tes tulis dilaksaakan, Billa merasa ia bisa mengerjakan soal itu
karena semalam ia sudah belajar. Setelah tes tulis dilaksanakan, keesokan
harinya kakak osis memberi tugas. “Tulislah Nama, Kelas beserta No Absen, dan
tulis jabatan apa yang kalian mau dan apa visi misi kalian menjadi osis,
setelah kalian menulisnya, kalian baca di depan dan menjawab semua pertanyaan
yang kami dan teman-temanmu tanyakan” kata kakak osis. Billa yang mudah takut
saat maju ke depan, ia berusaha tampil dengan baik.
Saat temannya membacakan visi misi mereka, teman sebangku Billa bertanya,
tidak sengaja kakak osis mendengar ada yang berbicara di bangku belakang, dan
kakak osis menyuruh Billa dan teman sebangku Billa maju ke depan untuk membacakan visi misinya
menjadi osis. Saat Billa sudah membacakan visi misinya, perasaannya menjadi
tenang karena visi misinya bagus. “Alhamdulillah, visi misiku dapat diterima”
kata Billa dalam hati. Akan tetapi teman sebangku Billa di marahi kakak osis
karena tidak menghargai temannya saat membaca. “Ya sudah siapa yang memulai
pembicaraan ?” kata kakak osis. Billa yang tidak bisa membiarkan temannya dapat
masalah akhirnya Billa membela temannya. “Saya yang memulainya kak” kata Billa
dengan tegas sambil menahan tangisannya. “Itu adalah contoh, jadi kalian jangan
mengulainya lagi” kata kakak osis. Billa yang bisa menahan tangisannya dan
mulai menangis di rumah.
Keesokannya, tes lisan dilaksanakan. Billa yang merasa takut di Eliminasi
berusaha menerima kejadian kemarin sudah mereka lupakan. Saat Billa di tunjuk ke
kelas sebelah untuk tes lisan, Billa kesulitan menjawab. “Jika kamu ada lomba
dan rapat osis pada hari dan jam yang sama, apa yang akan kamu lakukan ?” kata
kakak osis. Billa hanya bisa menjawab seadanya saja, “tentu saja saya memilih
rapat osis, karena rapat itu juga karena kepentingan sekolah” kata Billa. “Jika
kamu tidak ikut lomba, teman-temanmu akan kesulitan, dan jika rapat osis tidak
ada kamu osis juga kesulitan, jadi apa yang kamu lakukan ?” kata kakak osis.
Billa hanya terdiam tanpa berbicara sedikit pun.
Seminggu setelah tes lisan, tes LBB (Latihan Baris-Berbaris) pun
dilaksanakan. Billa tidak bisa bersuara keras dan akhirnya sakit karena terlalu
banyak bersuara keras. “Kenapa aku sulit sekali berbicara dengan suara keras ?”
kata Billa dalam hati sambil menangis menahan rasa sakit di perutnya. Setelah
latihan selesai, tes dilakukan di lapangan Volly dan di Lapangan Basket. “Lebih
baik di Lapangan Volly daripada di Lapangan Basket” kata Billa sambil
kepanasan.
Keesokannya Billa tidak masuk sekolah karena kelelahan. Kemudian besoknya
Billa masuk sekolah dan Lia memberi kabar “Billa kemarin waktu pelajaran
Biologi di Lap Fisika, Afiq bilang kalo dia suka kamu” kata Lia sambil senyum.
“Ahh itu tidak mungkin, masa baru kenal 3 bulan saja udah suka, mungkin dia
bercanda” kata Billa sambil berpikir tentang hal itu. “Afiq yang di bilang Lia
itu bercandakan ?” kata Billa lewat Facebook. “Iya bercanda kok, Bil...” kata
Putri. “Ohh yaudahlah” kata Billa sambil tertawa.
Lama-kelamaan Billa yang memikirkan hal itu tiba-tiba saja Billa merasa
suka dengan Afiq. Semenjak berita Afiq suka Billa, Afiq tidak pernah lagi
berbicara dan bercanda layaknya teman seperti dulu. Billa berulang kali SMS
Afiq sambil bercanda, tetap saja Afiq tidak membalasnya. Malam harinya Afiq
membalas SMSnya dengan kata-kata yang tidak enak di baca. “Baik, aku tidak
marah sama kamu, tapi kamu jangan ganggu aku lagi !” kata Afiq. “Memangnya aku
ganggu apa ?” Billa bertanya sambil keheranan.
Keesokannya Bila masuk sekolah dengan tidak bersemangat semenjak Afiq
memberi tahu seperti itu. Sepulang sekolah Billa, Lia, Afiq dan teman-teman
yang lain berkumpul di kelas 9 karena hari ini adalah pemilihan siapa yang akan
di eliminasi. Billa sudah tahu dia akan di eliminasi karena masalah saat
pembacaan visi misi. “Siapa yang disini merasa dia tidak diterima ?” kata kakak
osis. Billa yang merasa tidak diterima angkat tangan.
Nama yang dipanggil ke depan adalah Billa,Lia dan Nanda. Billa yang sudah
menduga dia tidak diterima hanya biasa pasrah. Dan ternyata benar yang di
eliminasi adalah Billa, Lia dan Nanda. Kakak osis langsung memeluk Billa, Lia
dan Nanda, Billa merasa mereka bahagia kalau Billa di Eliminasi karena terlihat
dari wajahnya. “Jangan sedih dek..., kalian masih bisa ikut Gelombang 2, masih
ada kesempatan kok, lagian yang mengeliminasi kalian bukan kita tapi guru” kata
kakak osis. Teman-teman Billa memberi semangat agar tidak putus asa. Billa
mencoba ikut Gelombang 2 bersama teman-teman yang baru daftar gelombang 2, saat
tes tulis soal yang di berikan pun sama pada saat gelombang 1. Saat mengerjakan
tiba-tiba Billa berpikir “apakah aku saat diterima menjadi pengurus osis bisa
melaksanakan tugasku ?” katanya dalam hati.
Keesokannya adalah adalah tes
lisan. Billa dan Lia sudah memutuskan kalau mereka keluar dari osis dan Billa
menampaikannya pada Winda dan Putri. “Ehh aku dan Lia keluar dari osis” kata
Billa. “Lho kenapa ?” kata Winda “Ini kesempatan bagus lho yang nge eliminasi
kita bukan mereka tapi guru” kata Putri. “Lebih baik aku sama Lia keluar, kita
takut tidak bisa melaksanakan tugas kita, daripada kita diterima tidak bisa
melaksanakan tugas, itu kan berarti kita cuma numpang jabatan aja, supaya di
sebut pengurus osis, kita cuma tidak mau dapat masalah lagi” kata Billa dan
Lia. “Ya sudah kita tidak maksa kalian ikut lagi” kata Winda dan Putri.
Setelah kejadian itu berlalu, perasaan Billa ke afiq tetap masih ada,
padahal Billa sudah mencoba melupakannya. “Kenapa perasaanku pada Afiq masih
saja ada padahal Afiq sudah bersama Silvi” Billa yang memikirkannya sambil
menangis karena sulit merelakannya. “Ya Allah bantulah aku dalam merelakan
perasaanku Afiq untuk Silvi” Kata Billa dalam hati. Afiq yang selalu bertemu
dengan Silvi di depan kelasnya membuat perasaannya semakin sakit, Billa hanya
Bisa mengungkapkannya dengan cara menangis karena rasa sakit perasaan yang
sulit disembuhkan. Saat pelajaran, Billa yang update status lewat BBM selalu
galau, galau, dan galau. Tiba-tiba saja ada yang membalas BBMnya tentang
statusnya. “Galau kenapa ?” kata orang itu, “Tidak kenapa-kenapa” Billa
membalas. “Semua masalah pasti ada penyebabnya” kata orang itu. Billa yang
semakin kesal membalas “Kenapa sih kamu kepo banget” kata Billa dengan membalas
emoticon marah. “Kan aku Cuma tanya aja” kata orang itu. Billa yang semakin
kesal tidak pernah membalas BBM orang kalau tanya-tanya tentang perasaannya.
Sesampainya di rumah Billa bergegas masuk kamar dengan menangis. “Kenapa
dek, kok pulang-pulang nangis” kata kakak Billa. Billa yang kelelahan
memikirkan hal itu langsung tertidur. Kakak Billa diam-diam bertanya pada
teman-temananya kenapa Billa pulang sambil menangis. Saat Billa bangun tidur
kakak Billa mengajak Billa jalan-jalan ke kota agar pikirannya bisa melupakan
masalah Afiq. “Udahlah dek, masalah itu, gak usah dipikirin lagi, diakan udah
ada yang punya, masih banyak kok laki-laki yang suka kamu” kata kakak Billa.
“Tapi kak, dia tu sulit banget kulupain“ kata Billa dengan nada tinggi. “Udahlah
kamu nurut aja kata kakak” kata kakak Billa dengan sabar.
Sepulang dari kota, Billa masih saja sulit melupakannya, sehari-hari
Billa melupakannya dengan tidur atau dengan bermain dengan kakaknya. Dan
ternyata hal itu bisa dilupakan oleh Billa, kakaknya yang melihat Billa ceria
sudah merasa senang karena adiknya kembali ceria.
O Amanat :
Lupakanlah
Semua Masalah, Tetapi Jika Masalah Itu Kita Sendiri Yang Membuat, Kita Harus
Bertanggung Jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar